Hujan gerimis hari ini lebih deras dari biasanya. Ya.. mengingat ini adalah bulan Desember maka ramalan cuaca sudah dipastikan akan menunjukkkan gambaran awan hitam hingga akhir bulan nanti.
“Sudah jam 3, apa kamu tidak pulang, Rein?” Setelah sedari tadi memandangi hujan dari balik jendela kelas, kuhampiri Reina yang sedang sibuk dengan tugasnya
“Belum selesai juga?” tambahku.
“Apa kamu tidak melihat hujannya sangat deras? Kau saja yang pulang duluan” jawab nya ketus. Dan bisa dipastikan dia tidak sedang benar-benar marah
“Apa kau tega menyuruhku pulang dengan bersepeda hujan-hujan begini?” jawabku tidak kalah berpura-pura
“Jelas tidak lah” godanya seraya menjiwit hidungku. “aku tidak ingin sahabatku jatuh sakit. Kalau kamu sakit siapa dong yang aku hujani omelan besok? Kupastikan Bu Mia benar-benar marah jika tahu tugasku belum juga beres” lanjutnya.
Tawaku memecah kecanggungan sore itu, diikuti tawanya yang pasti.
Tak apa meskipun tetap kata sahabat yang ia pakai untuk mendeskripsikan “kita”
Diandra Reina Putri, aku mengenalnya sejak awal masuk SMP dan dari sana lah kami meresmikan persahabatan hingga detik ini genap empat tahun kami bersama.
Awalnya, banyak yang mengira jika kami berpacaran. Bak minyak yang disulut api, gosip itu dengan cepat menyebar keseluruh penjuru sekolah, dan saat itulah masalah mulai datang silih berganti. Reina, seorang bintang sekolah SMP saat itu, sudah jelas ia mempunyai sederetan list laki-laki yang ingin menjadi pacarnya, tapi tak seorangpun ia terima dan entah mengapa sasaran empuk para korban patah hati Reina adalah aku. Mereka mengira yang menjadi penyebab mengapa Reina tak pernah menerima cintanya adalah kedekatanku dengan Reina, pernah sesekali saat aku berjalan di lobby sekolah ada yang tiba-tiba mendekatiku, membawaku kesudut ruangan, lalu meminta meskipun dengan memaksa, untuk menjadi cupit antara dia dengan Reina. Setiap hari ia menitipkan surat dan sebatang cokelat untuk Reina melalui ku dan saat keduanya aku berikan pada Reina ia justru menyuruhku memakan cokelat dari laki-laki itu, mulai saat itu aku mulai rutin makan cokelat tiap minggu nya.
Apakah sama jika surat dan cokelat itu dariku? Pikirku dalam hati.
“Reeeeeiiiiiinn!! Cepat bangun! Kita sudah hampir telat!” sepuluh menit sudah aku berusaha sekuat tenaga membujuk Reina agar mau masuk sekolah tapi tetap saja ia bersembunyi dibalik selimut tebalnya.
Awalnya seperti biasa, setiap berangkat sekolah aku mengayuh sepeda menjemput Reina terlebih dahulu dan tak perlu menunggu lama ia sudah berada dibelakangku, melingkarkan tangannya dipinggangku, dan kami siap melaju. Tapi kali ini ada yang berbeda, Mbok Mini menyuruhku ikut membujuk Reina agar mau bangun.
“Mbok, Reina tumben banget sih kayak gini?” bingung akupun keluar menemui Mbok Mini yang menunggu didepan pintu kamar
“Mbok juga nggak tahu mas, dari kemarin malam Mbak Reina nggak mau makan”
“Jangan-jangan dia sakit, Mbok”
Benar saja. Sekarang sudah menunjukkan pukul 08.00 dan aku masih berada dirumah Reina, menyuapinya dua mangkuk bubur ayam dan ia lebih terlihat seperti orang yang belum makan beberapa minggu. Kugelengkan kepala seraya tertawa, tak percaya dia yang biasanya makan satu porsi mi ayam saja tak habis tapi kali ini melahap dua mangkuk bubur sekaligus.
Hari ini aku tidak masuk sekolah, kedua orangtua Reina menginginkan aku menemani Reina dirumah dan berjanji akan mengurus surat ijin kami berdua.
Aku bersyukur karena daridulu telah diberi kepercayaan untuk menjaga Reina dan aku tak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu.
“Sudah mendingan belum?” tanyaku seraya meletakkan telapak tangan pada dahinya. Panas. Kutahu suhu badan nya tak biasa saat ini
“Masih pusing, Ga. Rasanya mataku nggak bisa disanggah lagi”
“Biarkan obatnya bekerja, sekarang kamu tidur aja biar aku tunggu diluar sambil bikin makanan”
“Cepat kembali. Kamu bisa makan disini aja, dikamarku” tatapan kami saling beradu, genggaman tangannya hangat seolah tak ingin ditinggalkan, lagipula aku juga takkan tega meninggalkannya lama-lama dalam keadaan seperti ini.
Aku mengangguk.
Dia sudah tidur, batinku. Dengan membawa semangkuk mie instan dan lemon ice pelan-pelan aku memasuki kamarnya dan duduk disampingnya tanpa suara.
Tak sengaja kuamati wajahnya sangat dekat.
Matanya, sesuatu yg paling bersinar dari diri Reina itu kini terlihat sayu hingga terbentuk kantung mata disana. Jika tidak sedang terpejam kau bisa lihat betapa ia mempunyai bola mata bulat dan sangat hitam. Meskipun sesekali ia mengenakan softlens berwarna cokelat, katanya sih bosan dengan yang biasa-biasa saja padahal tak ada yang bosan melihat sorot matamu, Rein.
Hidungnya, ia masih mempunyai keturunan Arab dari neneknya yang sekarang telah tiada, bisa dipastikan ia mempunyai hidung mancung hingga hampir simetris dengan dagunya.
Rambutnya, masih dibiarkan hitam tanpa sentuhan pewarna rambut sedikitpun, terurai panjang, dan berponi dora. Dari kecil hingga sekarang ia tak pernah mengubah gaya rambutnya itu.
Dan dia, pemilik senyum paling manis.
“GAAAA AYOO BANGUUUN!!” teriakan Reina kali ini benar-benar merusak tidurku
“Atapnya bocor ya, Rein?” dengan kesadaran yang belum maksimal aku berusaha menghindari percikan air yang tepat mengenai wajahku tapi bukannya terhindar aku malah.. “aduh!” pekikku spontan, aku berhasil sadar dengan posisi telungkup diatas lantai
“HAHAHAHA” kupalingkan wajahku dan ku lihat seorang wanita berdiri dibelakangku lengkap dengan sebuah cibuk kamar mandi, cekikikan hingga terpingkal-pingkal
“AGAAA STOP!! AMPUUUN! STOP STOP!” kali ini tak kubiarkan ia lolos, ku balas memercikan air ke wajahnya hingga mengitari seluruh kamar, berbalas-balasan terus seperti itu.
Seperti anak kecil saja, batinku geli melihat tingkah kami berdua.
Jika tak mungkin meraihmu, menjadi alasan dalam tawamu saja sudah cukup bagiku.
Ia bangkit dengan masih menyisakan tawa di bibirnya, “jangan biarkan mamaku menunggu lama, kita akan makan malam bersama kali ini, aku juga sudah menyiapkan baju ganti untukmu. Kalau sudah, lekaslah turun” pinta Reina seraya meningggalkan kamar
“Eh nak Aga ayo sini makan malam bergabung dengan kami”
Aku mengangguk dan tersenyum mengiyakan sambutan Tante Miranti, mama Reina.
Dari sini aku bisa melihat ditengah sana terdapat kebahagiaan yang tulus dalam sebuah keluarga.
Om Bimo, Tante Miranti, Reina, dan Mbok Mini pun disatukan pada meja yang sama. Tak ada perbedaan jabatan disini. Hanya saja, Arya, adik Reina satu-satunya itu sedang tidak berada dirumah, ia sedang mengikuti kemah disekolahnya, setauku.
Ditengah sana, di dalam rumah semegah ini terdapat sebuah meja makan mungil meskipun tak meninggalkan kesan elegant yang selaras dengan tema rumah ini. Reina pernah bercerita bahwa ia sendiri yang memilih meja makan ini untuk keluarganya, alasannya karena meja makan adalah tempat yang dapat menyatukan mereka dari kesibukan setiap harinya.
Rumah ini sudah terlalu besar hingga kami tak saling berpapasan, maka aku ingin memiliki dunia kecil untuk kami sekedar bercengkrama, persis seperti itu saat ia mencoba menjelaskan seberapa penting makna sebuah ruang makan bagi keluarganya.
“Gimana keadaan nya? Sudah enakan, Sayang?”
“Sudah ma, Aga menggantikan kompresku setiap saat” jawab Reina seraya mengedipkan mata kearahku.
“Maaf ya sayang , papa nggak bisa ijin pulang lebih cepat karena tadi ada masalah dengan klien”
Reina sangat memahami kesibukan kedua orangtua nya terutama papa Reina yang bekerja di perusahaan kakeknya itu kini mendapatkan posisi sebagai direktur utama “Pa… kan sudah ada Aga dan Mbok Mini yang jagain Reina dirumah. Aga udah Reina sogok pakai cokelat, nah.. jadi dia bakal jagain aku dengan baik” Tawa kami memecah kecanggungan malam itu. Atau hanya aku yang merasakan atmosfer ini.
“Terimakasih ya nak Aga, maaf kalau tante dan Reina sudah merepotkan kamu, salam untuk mama-mu ya” tante Miranti dan om Bimo mengantarkan aku hingga diujung pintu
Cepat-cepat aku menggelengkan kepala, “sama sekali tidak merepotkan kok, om dan tante. Aga malah seneng…”
“Soalnya jadi bisa bolos sekolah kan, Ga..” goda Reina tiba-tiba muncul dari balik Tante Miranti dan Om Bimo
“Kamu tuh ya” hidung Reina sukses menjadi sasaran gemasku yang daritadi belum terbalaskan
Ia hanya tersenyum manis, “hati-hati ya, Ga. Bajunya kamu simpen aja” pandangannya mengarah pada baju miliknya yang kukenakan. Kedua orangtua Reina sudah masuk, hanya aku dan Reina dibalik pagar megah ini.
“Kau serius, Rein? Bukankah ini baju kesayanganmu? Kau harus pergi jauh-jauh ke Singapore untuk mendapatkan yang sama seperti ini”
“Apa salahnya memberikan sebuah barang kesayangan untuk sahabat kesayangan?” senyum manisnya terurai begitu saja memperlihatkan deretan gigi rapinya.
“Oke kuanggap ini sebagai bayaran atas menjagamu seharian penuh” tawaku. “kau akan menjadi wanita yang paling kusayangi, setelah ibuku yang pasti” aku tersenyum lalu berlalu mengayuh sepeda, ku lihat dari kejauhan ia masih terpaku didepan rumah
Aku mencium keningnya untuk pertama kali
Pagi yang cerah, kubuka jendela kamar membiarkan sejuk dan hangat mentari masuk ke segala penjuru kamarku. Sepertinya tidak ada tanda-tanda semalam turun hujan, itu tandanya hari ini aku tak perlu khawatir seragam putih abu-abu ku ini terkena siratan becek kendaraan yang sering seenaknya.
“Ma, Aga berangkat sekolah dulu” kuhabiskan tegukan terakhir susu putih dan sepotong castengel buatan mama. Pagi-pagi seperti ini ia selalu sibuk dengan usaha cateringnya, berkutat di dapur tetapi tak pernah lupa menyiapkanku sarapan.
“Hati-hati, Sayang, kamu jemput Reina hari ini? Kenapa nggak naik sepeda motor aja, sih?” tatapannya menunjuk pada motor gede yang berada di garasi rumah. Itu memang hadiah dari ayah atas kejuaraan Debat Bahasa Indonesia tingkat nasional yang kuraih pada saat kelas 3 SMP lalu.
“Sepeda motor itu terlalu mewah untuk dibawa ke sekolah” jawabku berbohong, segera berlalu aku bergegas mengayuh sepeda kerumah Reina
Ku harap ia tak marah gara-gara kejadian semalam
“Mbok, Reina udah siap belum?” tanyaku pada Mbok Mini yang sedang menyapu teras
“Loh.. Mbak Reina sudah berangkat barusan, saya kira sama Mas Aga” sahutnya bingung
“Mbok yakin dia udah berangkat?” tanyaku memastikan
“Iya mas, tadi Mbak Reina sudah pamit tapi nggak bilang kalau bukan sama Mas Aga” kuayuh sepedaku lebih cepat, tak sempat Mbok Mini menyelesaikan pembicaraan nya, aku sudah berlalu lebih dulu.
Jangan-jangan dugaanku benar.
Dikelas banyak kuhabiskan dengan diam. Ketika raga kami disatukan pada satu bangku yang sama tetapi jiwa kami tidak, perasaanku berontak. Akupun memberanikan diri membuang jauh-jauh egoku dan terucaplah secara spontan, “Bagaimana tugas dari Bu Mia? Sudah kau kumpulkan belum? Jangan sampai terlambat satu menitpun, Rein. Jika diomeli, aku tidak mau bertanggung jawab ya” godaku.
“Sudah, tenang saja” Jawabnya tanpa senyuman.
Aku merapal dalam hati, mencaci diri sendiri, mencoba mengingat kembali kesalahan apa yang membuat Reina sampai bersikap dingin seperti ini.
Bel pulang sekolah berbunyi, Reina dengan cepat menerobos kerumunan pelajar yang juga hendak menuju gerbang sekolah. Aku berusaha mengejarnya tetapi ia terlampau cepat. Ketika aku mulai menemukan sosoknya, mendekat kearahnya berniat menawari tumpangan seperti biasa, niatku ku urungkan. Dia sudah mempunyai tumpangan rupanya.
Dan pada akhirnya seorang putri lebih memilih pangeran berkereta kuda daripada berkereta lobak.
Laki-laki itu. Sepertinya aku pernah melihat ia sebelumnya.
Entah dapat keberanian darimana, aku mulai menyentuh motor gede ini, sebenarnya aku belum benar-benar siap, luka bekas kecelakaaan setahun yang lalu masih hangat dipikiranku. Kunyalakan mesinnya, tak ada cacat, hanya saja pada bagian kaca depan dan sisi bagian kanan masih menggoreskan kenangan pahit. Kejadiannya begitu singkat, kulajukan sepeda motor pada kecepatan normal, hanya saja saat itu aku masih mengantuk, terpaksa bangun untuk mengantarkan mama ke rumah client yang memesan catering. Aku tak ingat apa-apa. Disaat aku sadar dalam keadaan dahi yang sudah terjahit, yang kupikirkan pertama kali hanya keadaan mama. Syukurlah ia telah pulih dari pingsan ringan. Sedikit gemetar , kuhentikan sepeda motor didepan rumah Reina.
“Loh Mas Aga tumben naik…”
“Iya mbok sekali-sekali kan nggak papa” ujarku tertawa layaknya tahu apa yang ada dipikiran Mbok Mini. “Hm… Reina-nya udah siap belum ya, Mbok?” lanjutku
“Aduh Mas Aga telat lagi. Mbak Reina sudah berangkat baru saja”
“Yaudah makasih mbok” teriakku seraya kencang melajukan sepeda motor
Lebih kencang lagi aku mencoba mengejar bayangan Reina. Kali ini aku benar-benar telah merindukannya, genap satu minggu sudah dia bersikap dingin. Jangankan bicara, duduk sebangku saja ia sudah enggan.
Lampu merah pertama, sangat kukenali sosoknya meskipun dari kejauhan, kulewati setiap celah antar kendaraan, tak kuhiraukan dentuman klakson yang tertuju padaku.
Semakin dekat…
Apa yang terjadi padaku?
Aku tak ingin sadarkan diri untuk sementara ini. Rasa takut ini, kini dua kali lebih dahsyat.
Jangan menangis, Ma. Aku tak apa-apa. Jangan ingat kejadian dua tahun silam. Jangan biarkan perasaanmu dihantui rasa takut.
Aku laki-laki yang seharusnya bisa menjagamu, maafkan telah mencelakakan diri sendiri, untuk kedua kali.
Aku sudah cukup tenang. Kubuka mataku perlahan, yang aku inginkan adalah tak melihat mamaku menangis.
Tempat ini lebih pantas disebut kelas playgroup. Dinding nya penuh dengan warna-warni tempelan. Atap-atap nya tak kalah meriah, digantungkan ornamen-ornamen kertas merangkai kata “Cepat Sembuh Aga”, moment-moment yang biasa aku dan Reina abadikan dalam sebuah foto maupun video, kini diputar dengan sedemikian rupa. Cokelat, cake, dan sepaket miniatur kartun One Piece ditata rapi disebelah ranjang tidurku. Dari kecil, aku rajin mengoleksi miniatur One Piece, memang. Seolah tak percaya, karakter-karakter yang sangat sulit dijumpai itu kini hadir di dalam nya. Mengundang perhatian, kubuka satu persatu surat yang sengaja digantung dari langit-langit kamar.
“Hai Aga! Saat membaca surat ini kamu pasti mengira sedang berada di sebuah kelas playgroup. Aku tak pernah malu bersikap seperti anak kecil saat bersamamu. Kita akan tumbuh besar dan dewasa tapi aku harap kita tetap bisa bermain tanpa memperdulikan waktu, berbagi cerita konyol, dan tak pernah bosan menjahiliku. Aku ingin kamu menjadi…”
Surat nya terpotong. Pandanganku menuju ke surat berikutnya dan harapanku sangat besar untuk mengetahui perasaannya padaku.
“Sahabat yang selalu ada disaat suka maupun duka, malaikat penjaga yang melindungiku setiap harinya, dan guru yang memberikan pelajaran disetiap permasalahan. Aku ingin kita teteap seperti itu selamanya”
Lampu nya mati.
Tak sampai hitungan menit gagang pintu berputar, remang-remang cahaya mulai masuk diiringi lagu selamat ulang tahun. Reina memelukku. Memberiku kue ulang tahun lengkap dengan lilin 17 diatasnya.
Aku menghindar perlahan, “Bukankah kamu marah padaku?”
Dia tertawa kecil “Itu salah satu kado ulang tahunmu. Maaf jika aku menghindar, maaf juga telah mencelakakanmu. Aku dengar, kamu nekat mengendarai motor karena tak ingin kalah saingan dengan laki-laki yang rutin mengantar jemputku akhir-akhir ini”
Aku masih terdiam, mencoba memahami penjelasan Reina
“Laki-laki itu… mungkin kau sudah mengenalnya. Dia teman smp yang cokelat pemberiannya selalu kau makan dan bunganya selalu kutolak. Kini aku mencintainya”
Aku membalas pelukannya, sebagai tanda terima kasih atas kejutan yang ia berikan dan selamat karena ia telah menemukan cinta yang dicari nya selama ini.
Meskipun sakit. Aku tetap berdoa semoga ia bisa mencintaimu apa adanya dan menuntun-mu menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
“Kau takkan terganti, Ga” bisiknya mantap
“Kau juga” balasku.
Aku tak pernah merasa diabaikan meskipun kini kau telah bersamanya. Perhatianmu sebagai seorang sahabat tetap kurasakan. Ku harap suatu saat kita bisa bersama, Rein.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar